Kamis, 30 Oktober 2008

Pengaruh infak dan Sedekah dalam Pandangan As-Sunnah

Islam mengajarkan pada kita agar kita melatih diri untuk berinfak dan bersedekah, dengan sekecil apapun. Karena infak dan sedekah sangat memberi pengaruh dan keberuntungan ke dalam kehidupan kita di dunia dan akhirat. Bahkan di dalam hadis banyak disebutkan bahwa jika kita punya harapan untuk mencapai hajat tertentu, kita diperintahkan memulainya dengan sedekah.

Yang harus kita yakini adalah bahwa setiap perbuatan manusia akan berwujud makhluk. Yang negatif akan menghantam kehidupannya, yang positif akan membantunya di dunia dan akhirat. Hanya saja mata indrawi kita melihatnya. Hal ini banyak disebutkan di dalam hadis Nabi saw dan Ahlul baitnya (sa) bahwa perbuatan manusia akan berwujud makhluk.
Tentang pengaruh infak dan sedekah berikut ini hadis-hadis Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa):

Dampak sedekah terhadap kematian
Rasulullah saw bersabda:
"Sedekah dapat menolak kematian yang buruk." (Al-Wasail 6: 255, hadis ke 2)

Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata:
Pada suatu hari orang yahudi lewat dekat Rasulullah saw, lalu ia mengucapkan: Assam 'alayka (kematian atasmu). Rasulullah saw menjawab:
'Alayka (atasmu). Lalu para sahabatnya berkata: Ia mengucapkan salam atasmu dengan ucapan kematian, ia berkata: kematian atasmu. Nabi saw bersabda: "Demikian juga jawabanku." Kemudian Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya orang yahudi ini tengkuknya akan digigit oleh binatang yang hitam (ular dan kalajengking) dan mematikannya. Kemudian orang yahudi itu pergi mencari kayu bakar lalu ia membawa kayu bakar yang banyak. Rasulullah saw belum meninggalkan tempat itu yahudi tersebut lewat lagi (belum mati). Maka Rasulullah saw bersabda kepadanya:
"Letakkan kayu bakarmu." Ternyata di dalam kayu bakar itu ada binatang hitam seperti yang dinyatakan oleh beliau. Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Wahai yahudi, amal apa yang kamu lakukan? Ia menjawab: Aku tidak punya kerjaan kecuali mencari kayu bakar seperti yang aku bawa ini, dan aku membawa dua potong roti, lalu aku makan yang satu potong dan satu potong yang lain aku sedekahkan pada orang miskin. Maka
Rasulullah saw bersabda: "Dengan sedekah itu Allah menyelamatkan dia."
Selanjutnya beliau bersabda: "Sedekah dapat menyelamatkan manusia dari kematian yang buruk." (Al-Wasail 6: 267, hadis ke 4)

Muhammad bin Muslim berkata: Pada suatu hari aku pernah bersama Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berada di dalam masjid Rasulullah saw, kemudian jatuhlah potongan kayu masjid dan mengenai seseorang tapi tidak membayakannya padahal mengenai kakinya. Kemudian Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: "Tanyakan padanya apa yang dia amalkan."
Kemudian ia bertanya kepadanya, dan ia berkata: tadi aku keluar rumah dan membawa beberapa buah korma di sakuku, saat aku berjumpa dengan seorang pengemis aku sedekahkan padanya sebuah korma. Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: "Dengan sedekah itu Allah menyelamatkanmu. "
(Al-Wasail 6: 269, hadis ke 6)

Dampak sedekah terhadap penambahan rizki.
Rasulullah saw bersabda:
"Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya sedekah dapat menambah harta yang banyak. Maka bersedekahlah kalian, niscaya Allah menyayangi kalian." (Al-Wasail 6: 255, hadis ke 11)

Rasulullah saw bersabda:
"Sebaik-baik harta seseorang dan simpanannya adalah sedekah."
(Al-Wasail 6: 257, hadis ke 14)

Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata:
"Mohon datangkan rizki dengan sedekah, barangsiapa yang meyakini hari esok ia akan bersikap dermawan dengan pemberian, sesungguhnya Allah menurunkan pertolongan sesuai dengan kadar hari ini." (Al-Wasail 6: 255)

Dampak sedekah terhadap hal-hal yang bahaya
Rasulullah saw bersabda:
"Mulai pagi harimu dengan sedekah, barangsiapa yang memulai pagi harinya dengan sedekah ia tidak akan terkena sasaran bala'."
(Al-Wasail 6: 257, hadis ke 15)

Imam Ja'far sh-Shadiq (sa) berkata:
"Obati penyakitmu dengan sedekah, tolaklah bala' dengan doa, dan mohon datangkan rizkimu dengan sedekah, karena sesungguhnya sedekah dapat mengusir tujuh ratus setan dari depan dagu..." (Al-Wasail 6: 260, hadis ke 1)

Dampak Infak terhadap keimanan
Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata:
"Tidaklah sempurna keimanan seorang hamba sehingga ia melakukan empat hal: Berakhlak baik, bersikap dermawan, menahan karunia dari ucapan, dan mengeluarkan karunia dari hartanya." (Al-Wasail 6: 259, hadis ke 21)

Tangan Allah
Rasulullah saw bersabda:
"Tangan itu ada tiga: tangan Allah paling atas, tangan pemberi yang berikutnya, dan tangan peminta paling bawah. Maka berikan karuniamu dan jangan lemahkan dirimu." (Al-Wasail 6: 263, hadis ke 4)

Bersedekahlah walaupun Sedikit
Rasulullah saw bersabda:
"Berdekahlah walaupun segantang korma, walaupun sebagian dari segantang, walaupun segenggam korma, walaupun sebiji korma, walaupun separoh korma. Barangsiapa yang belum mendapatkannya maka bersedakahlah dengan ucapan yang baik. Karena sesungguhnya kamu akan menjumpai Allah dan Dia akan bertanya kepadamu: 'Apakah Aku belum berbuat sesuatu untukmu? Apakah Aku belum menciptakan pendengaran dan penglihatan untukmu? Apakah Aku belum mengkaruniakan padamu harta dan anak? Kamu tentu akan menjawab: Tidak (semuanya sudah). Kemudian Allah swt berfirman: 'Lihatlah apa yang telah kamu lakukan pada dirimu.
Kemudian ia akan melihat apa yang telah ia lakukan, ia melihat ke depan dan ke belakang, ke kanan dan ke kiri. Maka saat itulah ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun yang dapat menjaga wajahnya dari api neraka." (Al-Wasail 6: 264, hadis ke 1)

Sepotong Roti dengan Sepotong daging anak
Imam Ali Ar-Ridha (sa) berkata:
Pada suatu masa menim pada pada Bani Israil musim kemarau panjang beberapa tahun berturut-turut. Saat itu ada seorang ibu memiliki sepotong roti, ia meletakkan di mulutnya untuk dimakan, lalu datanglah seorang pengemis dan berkata: wahai hamba Allah, aku lapar. Ibu itu berkata: Apakah saatnya zaman seperti ini bersedekah? Kemudian ia mengeluarkan sepotong roti itu dari mulutnya, lalu memberikan pada
pengemis itu. Saat itu anaknya sedang mencari kayu bakar di padang pasir, lalu datanglah srigala dan membawa anak itu. Kemudian terjadilah teriakan, sang ibu terkejut lari ketakutan akan bahaya srigala. Maka Allah mengutus malaikat Jibril, lalu ia mengeluarkan anak itu dari mulut srigala dan memberikan pada ibunya. Jibril berkata pada sang ibu: wahai hamba Allah, apakah kamu ridha? sepotong roti
digantikan dengan sepotong daging (keselamatan anakmu)."
(Al-Wasail 6:264, hadis ke 4)

Allah Yang Mengambil Sedekah
Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata bahwa Allah swt berfirman:
"Segala sesuatu Aku wakilkan pada orang selain-Ku untuk menggenggamnya kecuali sedekah, Aku sendiri dengan tangan-Ku yang mengambilnya, sekalipun seseorang bersedekah dengan satu biji korma atau sebelah biji korma. Kemudian Aku menambahkan baginya sebagaimana ia menambahkan sebelum meninggalkan. Kemudian saat ia datang pada hari kiamat ia mendapat pahala seperti pahala perang Uhud bahkan lebih
besar dari pahala perang Uhud." (Al-Wasail 6: 265, hadis ke 7)

Awali Pagi hari dengan Sedekah
Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata:
"Awali pagi harimu dengan sedekah, gemarlah bersedekah. Tidak ada seorang mukmin pun yang bersedekah karena mengharapkan apa yang ada di sisi Allah untuk menolak keburukan yang akan turun dari langi ke bumi pada hari itu, kecuali Allah menjaganya dari keburukan apa yang akan turun dari langit ke bumi pada hari itu." (Al-Wasail 6: 267, hadis ke 3)

Sedekah dapat Merubah Takdir
Rasulullah saw berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib (sa):
Wahai Ali, sedekah itu dapat menolak takdir mubram (yang telah ditetapkan). Wahai Ali, silaturahim dapat menambah umur. Wahai Ali, tidak ada sedekah ketika keluarga dekatnya membutuhkan. Wahai Ali, tidak ada kebaikan dalam ucapan kecuali disertai perbuatan, dan tidak ada sedekah kecuali dengan niat (karena Allah)." (Al-Wasail 6: 267, hadis ke 4)

Sedekah Penolak hari Nahas
Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata:
"Antara aku dan seseorang punya perhitungan tentang bumi. Orang itu ahli nujum, ia sengaja keluar rumah untuk suatu urusan pada saat "Al-Su'ud" (bulan berada di manazil Al-Su'ud), dan aku juga keluar rumah pada hari nahas. Lalu kami menghitungnya, lalu keluarlah untukku dua perhitungan yang baik. Kemudian orang itu memukulkan tangan kanannya pada tangan kirinya, kemudian berkata: Aku belum pernah sama sekali melihat hari seperti hari ini. Aku berkata: Celaka hari yang lain dan hari apa itu? Ia berkata: Aku ahli nujum, aku datang padamu pada hari nahas, aku keluar rumah pada saat Al-Su'ud, kemudian kami menghitung, lalu keluarlah untuk Anda dua perhitungan yang baik.
Ketika itulah aku berkata kepadanya: "Tidakkah aku pernah menyampaikan suatu hadis yang disampaikan padaku oleh ayahku? Yaitu Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang ingin diselamatkan oleh Allah dari hari nahas, maka hendak mengawali harinya dengan sedekah, niscaya Allah menyelamatkannya dari hari nahas itu. Barangsiapa yang ingin diselamatkan oleh Allah dari malam nahas, maka hendaknya mengawali
malamnya dengan sedekah niscaya ia diselamatkan dari malam nahas itu.
Kemudian aku berkata: "Sesungguhnya aku mengawali keluar rumah dengan sedekah; ini lebih baik bagimu daripada ilmu nujum." (Al-Wasail 6:273, hadis ke 1)

Sedekah di Malam hari dan Siang hari
Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata:
"Sesungguhnya sedekah di malam hari dapat memadamkan murka Allah, menghapus dosa besar dan mempermudah perhitungan amal; sedekah di siang hari dapat menumbuhkan harta dan menambah umur." (Al-Wasail 6:273, hadis ke 2)

Sedekah yang tersembunyi
Rasulullah saw bersabda:
"Sedekah yang tersembunyi dapat memadamkan murka Allah swt."
(Al-Wasail 6: 275, hadis ke 1)

Imam Ali bin Abi Thalib (sa):
"Sesungguhnya tawassul yang paling utama adalah bertawasul dengan keimanan kepada Allah ..., dengan silaturrahim karena hal ini dapat menumbuhkan harta dan menambah umur; dengan sedekah yang tersembunyi karena hal ini dapat menghapuskan kesalahan dan memadamkan murkan Allah Azza wa Jalla; dengan amal-amal yang ma'ruf (kebajikan) karena hal ini dapat menolak kematian yang buruk dan menjaga dari pertarungan
kehinaan..." (Al-Wasail 6: 275, hadis ke 4)

Ahlul bait Nabi saw imam bagi para dermawan
Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata:
"Dalam kegelapan malam Ali bin Husein (sa) sering keluar rumah, membawa dan diletakkan di pundaknya kantongan yang berisi uang dinar dan dirham, kadang-kadang memikul di pundaknya karung yang berisi makanan atau kayu bakar. Ia mendatangi dan mengetok dari pintu ke pintu. Ia memberi setiap orang yang keluar dari pintu itu. Ia menutupi wajahnya ketika mendatangi rumah orang fakir agar ia tidak mengenalnya. Ketika beliau wafat mereka merasa kehilangan hal itu, dan mereka baru tahu bahwa yang sering mengetok pintunya itu adalah Ali bin Husein (sa). Ketika jenazahnya dimandikan kelihatan di pundaknya membekas hitam seperti pundak onta, karena seringnya memikul karung di pundaknya mendatangi rumah-rumah kaum fakir dan miskin.

Pada suatu hari beliau keluar rumah membawa selengdang sutera.
Kemudian datang seorang pengemis, beliau kalungkan selendang itu padanya lalu beliau pergi dan meninggalkannya. Kebiasaan beliau membeli kain sutera di musim dingin, jika datang musim panas beliau menjualnya dan mensedekahkan uangnya...

Di Madinah ada seratus keluarga Ahlul bait yang fakir. Mereka ta'ajjub terhadap beliau, karena beliau datang membawakan makanannya untuk anak-anak yatim, orang-orang yang sengsara, orang-orang sakit yang merana, dan orang-orang miskin yang tak berdaya. Beliau memberikan kepada mereka dengan tangannya sendiri. Jika ada keluarga dari mereka, beliau sendiri yang membawakan makanan pada keluarganya. Beliau tidak pernah makan sebelum memulai dan bersedekah seperti yang beliau
makan." (Al-Wasail 6: 276, hadis ke 8)

Sufyan bin 'Ayniyah bercerita bahwa Az-Zuhri pernah melihat Ali Zainal Abidin (sa) berjalan kaki di malam yang dingin dalam kondisi hujan, memikul di pundaknya tepung gandum dan kayu bakar. Az-Zuhri bertanya kepadanya: Duhai putera Rasulullah, apa ini? Beliau menjawab: "Aku ingin safar (melakukan perjalanan) yang telah dijanjikan yaitu mencari bekal untuk aku bawa ke tempat yang terjaga.
Az-Zuhri berkata: Ini pembantuku, biarlah dia yang menggantikanmu untuk membawanya, tapi beliau menolak tawaranku.
Az-Zuhri berkata: Aku saja yang akan menggantikanmu untuk membawanya, dengan rasa hormatku padamu biarlah aku yang membawanya.
Ali Zainal Abidin berkata: Aku tidak memikirkan kehormatanku untuk sesuatu yang menyelamatkan diriku dalam safarku, yang kuinginkan sangatlah baik untuk bekal perjalanan kepulanganku. Dengan hak aku mohonkan untukmu, semoga Dia memperkenankan hajatmu, silahkan tinggalkan aku.
Kemudian Az-Zuhri meninggalkan beliau.
Beberapa hari berikutnya Az-Zuhri berkata kepada beliau: Wahai putera Rasulullah, aku belum bisa merasakan dampak perjalanan yang pernah engkau ceritakan itu.
Beliau berkata: Baiklah wahai Zuhri, tidak lain yang aku maksudkan hanyalah kematian. Untuk itu aku persiapkan. Tidak lain mempersiapkan untuk kematian adalah menjauhi segala yang haram, mencurahkan segala kemampuan untuk kedermawanan dan kebajikan. (Al-Wasail 6: 279, hadis ke 5)

Tangan Pemberi bersentuhan dengan tangan Allah
Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata:
"Tidak ada sesuatu pun yang paling memberatkan setan dari pada bersedekah kepada seorang mukmin. Karena tangannya bersentuhan dengan tangan Allah swt sebelum bersentuhan dengan tangan hamba-Nya."
(Al-Wasail 6: 283, hadis ke 1)

Dikisahkan bahwa Imam Ali Zainal Abidin (sa) mencium tangannya setelah
memberikan sedekah. Lalu beliau ditanyai tentangnya. Beliau menjawab:
"Karena tangan itu bersentuhan dengan tangan Allah sebelum bersentuhan dengan tangan penerimanya. " (Al-Wasail 6: 303, hadis ke 2)

Rasulullah saw bersabda:
"Tidaklah ada sedekah seorang mukmin kecuali tangannya bersentuhan dengan tangan Allah sebelum bersentuhan dengan tangan pemintanya.
Kemudian beliau membacakan firman Allah swt: 'Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya Allah menerima taubat hamba-hamba- Nya dan menerima sedekah." (At-Taubah: 104). (Al-Wasail 6: 303, hadis ke 3)

Rasulullah saw bersabda:
"Bersedekah sepuluh, memberi pinjamanan modal delapan belas, bersilaturrahim pada ikhwan dua puluh, dan silaturahim pada kerabat dua puluh empat." (Al-Wasail 6: 286, hadis ke 2)

Peminta tidak boleh ditolak
Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata:
"Berilah peminta-minta walaupun hanya dinaikkan ke atas punggung kuda (numpang naik kendaraan)" (Al-Wasail 6: 290, hadis ke 1)

Beliau juga berkata:
"Sekiranya seorang pemberi mengetahui sesuatu yang ada dalam pemberiannya, niscaya ia tidak akan menolak seorangpun peminta-minta. " (Al-Wasail 6: 290, hadis ke 2)

Berbagi rasa Persaudaraan
Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata:
"Sesungguhnya di antara yang sangat ditekankan oleh Allah terhadap hamba-Nya dalam kewajiban adalah tiga hal: Sikap adil seorang mukmin terhadap dirinya sehingga ia tidak meridhai saudaranya kecuali apa yang ia ridhai untuk dirinya, berbagi rasa persaudaraan dalam hartanya, mengingat Allah dalam segala keadaan, tidak hanya bertasbih dan bertahmid kepada Allah tetapi juga menjauhi segala yang diharamkan
oleh Allah." (Al-Wasail 6: 298, hadis ke 1)

Pengikut Ahlul Bait (sa) dan Kaum Fakir
Muhammad bin 'Ajlan berkata: Pada suatu hari aku bersama Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa), lalu datanglah seseorang dan mengucapkan salam.
Kemudian Imam bertanya: Bagaimana saudara-saudaramu di masyarakatmu?
Ia menjawab: mereka baik akhlaknya, bersih prilakunya, dan mereka sangat terpuji.
Imam bertanya: Bagaimana tentang kunjungan orang-orang yang kaya pada orang-orang yang fakir?
Ia menjawab: Sedikit sekali.
Imam bertanya: Bagaimana tentang keperdulian orang-orang kaya terhadap orang-orang yang fakir?
Ia menjawab: Sedikit sekali.
Imam bertanya: Bagaimana tentang silaturrahim orang-orang yang kaya pada orang-orang yang fakir sehubungan dengan harta yang mereka miliki?
Ia menjawab: Engkau menanyakan akhlak yang sangat sedikit dilakukan di kalangan kami.
Imam menjawab: Bagaimana mungkin mereka mengaku pengikut Ahlul bait Nabi saw?
(Al-Wasail 6: 290, hadis ke 3)

Abu Ismail berkata: aku pernah bertanya kepada Imam Muhammad Al-Baqir (sa): Jadikan aku tebusanmu, para pengikut Ahlul bait (sa) di masyarakat kami banyak sekali. Imam Muhammad Al-Baqir (sa) bertanya:
Apakah yang kaya bersikap kasih sayang pada yang fakir? Dan apakah orang yang berbuat baik memaafkan pada yang berbuat salah, dan saling menghibur di antara mereka? Aku menjawab: Tidak. Beliau berkata:
"Bukan, mereka bukan pengikut Ahlul bait (sa). Pengikut Ahlul bait (sa) melakukan hal itu." (Al-Wasail 6: 299, hadis ke 4)

Jangan Menyebut-nyebut Pemberian
Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak menyukai bagiku dan para washiku dari keturunanku juga bagi para pengikut mereka sesudahku: Bersikap sia-sia dalam shalat, berkata kotor dalam puasa, menyebut-nyebut pemberian sesudah bersedekah, mendatangi masjid dalam keadaan junub (hadas), memandang pintu kamar orang lain, dan tertawa di kuburan." (Al-Wasail 6:316, hadis ke 4)

Rasulullah saw bersabda:
"Barangsiapa yang bersedekah kepada saudaranya kemudian menyebut-nyebut pemberiannya, maka Allah membatalkan amalnya, dan menetapkan bebannya serta tidak berterima kasih atas usaha." Kemudian beliau bersabda bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman: "Aku mengharamkan surga atas orang yang menyebut-nyebut pemberiannya, orang yang bakhil, dan mengadu-domba (namimah). Ingatlah, barangsiapa yang bersedekah
dengan suatu sedekah, maka baginya timbangannya setiap dirham seperti gunung Uhud dari kenikmatan surga. Dan barangsiapa yang berjalan untuk mengantarkan sedekah pada orang yang membutuhkan, maka baginya juga pahala seperti pemberinya tanpa sedikit pun mengurangi pahalanya."
(Al-Wasail 6: 316, hadis ke 5)

Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata:
"Barangsiapa yang berbuat kebajikan kepada seorang mukmin kemudian menyakiti dengan ucapan atau menyebut-nyebut pemberiannya, maka Allah membatalkan sedekahnya." (Al-Wasail 6: 317, hadis ke 9)

Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata:
"Orang yang beriman memiliki empat tanda: wajahnya berseri-seri, lisannya lembut, hatinya penyayang, dan tangannya pemberi." (Al-Wasail 6: 321, hadis ke 2)

Berbuatlah Kebajikan
Rasulullah saw bersabda:
"Setiap kebajikan itu sedekah." (Al-Wasail 6: 321, hadis ke 1)

Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) menjelaskan tentang firman Allah swt surat
An-Nisa' 114:
"Tidak ada kebaikan dalam bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat yang ma'ruf, atau mendamaikan di antara manusia." Beliau berkata: yang dimaksud dengan berbuat yang ma'ruf adalah memberi qiradh (pinjaman modal dengan bagi hasil)." (Al-Wasail 6: 321, hadis ke 2)

Memberi Makanan
Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata:
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mencintai orang yang memberi makan...
(Al-Wasail 6: 328, hadis ke 2)

Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata:
"Di antara amal yang paling dicintai oleh Allah Azza wa Jalla adalah mengenyangkan orang mukmin yang lapar, atau meringankan deritanya atau menunaikan hutangnya." (Al-Wasail 6: 328, hadis ke 3)

Menjernihkan Iman
Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata:
"Sebaik-baik kalian adalah yang dermawan dan seburuk-buruk kalian adalah yang bakhil. Barangsiapa yang ingin jernih imannya bersedekalah pada saudaranya dan berusaha memenuhi kebutuhannya. Sesungguhnya orang yang bersedekah pada saudaranya ia dicintai oleh Yang Maha Pengasih, dan saat yang sama mengusir setan, selamat dari neraka dan masuk surga." Kemudian beliau berkata kepada Jamil: Wahai Jamil, sampaikan
hal ini pada sahabat-sahabatmu yang mulia! Jamil bertanya: Siapakah sahabat-sahabatku yang mulia? Beliau menjawab: "Mereka yang berbuat kebajikan (bersedekah) pada saudara-saudaranya dalam kesulitan dan kemudahan." (Al-Wasail 6: 332, hadis ke 2)(Disarikan dari kitab Zakat Mal, Allamah Muhammad Taqi Al-Mudarrisi)

Wassalam,

Kamis, 23 Oktober 2008

Adab-Adab berdoa dan Syarat2 Ijabahnya doa.

Doa adalah ungkapan fitri yang indah, wasilah untuk mencapai hajat dan harapan. Setiap saat batin manusia berharap, bersuara yang tak terdengar telinga lahir manusia. Tak jarang juga ada yang batinnya merintih dan menjerit, yang tak seorang pun mendengar dan memperdulikan kecuali Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi.

Saat itulah ia membutuhkan sarana batiniyah yang dapat menyalurkan harapan dan rintihan batinnya. Itulah doa, sarana yang paling ampuh bagi manusia. Karena saat inilah manusia paling dekat dengan Tuhannya.
Doa juga prisai yang kokoh dan senjata yang ampuh bagi kaum mukminin.

Tak jarang manusia bertanya dalam hatinya apa sebenarnya ukuran doa itu diijabah? Dan bagaimana caranya supaya permohonannya menjadi kenyataan?

Jika Allah swt menetapkan bahwa suatu persoalaan itu sangat penting bagi manusia, tentu Dia menentukan syarat-syarat dan adab-adabnya.
Termasuk di dalamnya adalah doa sebagai inti ibadah.

Di antara adab berdoa dan syarat ijabahnya agar doa itu didengar dan permohonan diperhatikan oleh Allah swt adalah: kondisi yang suci, hati yang lembut. Memilih waktu yang tepat, dan tempat yang layak.
Melakukan shalat hajat sebelum berdoa, bersedekah sebelumnya, dan lainnya. Secara detail penjelasan Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa) tentangnya, berikut penjelasan seorang mufassir besar tentang apa sebenarnya doa itu dan apa pengaruhnya dalam kehidupan manusia?
Semuanya secara detail Anda akan temukan dalam eBook ini.

Wassalam'
R. Benny Wahyuadi.

Yang berminat, silahkan klik disini dan mengunduhnya:
http://syamsuri149.wordpress.com/ebooks

Doa Kemenangan dan Perlindungan.

Dalam kehidupan setiap manusia tak akan terlepas dari bermacam-macam ujian dan cobaan. Ada yang alami, ada juga akibat kezaliman dan kedengkian orang lain. Sehingga mengganggu hidupnya dan aktivitasnya.
Karena itu Islam membekali umatnya dengan senjata yang ampuh,khususnya bagi kaum mukminin, orang-orang yang yakin.

Doa kemenangan dan Perlindungan ini saya kutip dari kitab kumpulan doa-doa yang keshahihannya telah mendapat legalitas dari para ulama dan pakar ahli hadis. Bersumber dari Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa). Doa-doa dalam eBooks ini terdiri dari:

1. Doa kemenangan. Doa ini sangat bagus dibaca pada malam Jum'at.
2. Doa Sayfush Shaghir (pedang kecil). Doa ini diakui khasiatnya oleh para ulama, bahkan oleh ulama Ahlussunnah. Syeikh An-Nuri mengatakan bahwa di kalangan ulama sufi terdahulu mengakui bahwa di dalam doa ini mengandung thilasm dan taskhir yang memiliki pengaruh menakjubkan.
Tilasm dan taskhir adalah salah satu bagian dari ilmu yang mengungkap rahasia huruf.

Dalam kitabnya Al-Muqaddimah Ibu Khaldun mengatakan: Ilmu rahasia-rahasia huruf dahulu di kalangan ulama sufi dikenal dengan istilah "Thilasmât" dan di zaman ini dikenal dengan "Alsemia". Al-Imam Ahmad bin Ali Al-Buni mengatakan dalam kitabnya "Syamsul Ma'arif": Anda jangan mengira bahwa rahasia-rahasia huruf adalah ilmu yang
diperoleh dengan analogi akal, tetapi sesungguhnya rahasia-rahasia huruf itu diperoleh melalui jalan musyahadah (kesaksian mata batin) dan bimbingan Ilahi.

3. Doa Perlindungan dari Kejahatan Lawan. Selain untuk perlindungan doa ini berkhasiat untuk menundukkan hati lawan. Doa ini bersumber dari Imam Ali bin Abi Thalib (sa). Dikutip dari kitab Mujarrabat Imamiyah.

4. Munajat di Zaman Kezaliman. Munajat ini adalah munajat Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa), salah seorang Imam dan keturunan Ahlul bait Nabi saw.
Doa ini dikutip dari kitab Manhajud Da'awat.

Wasslm'
R. Benny Wahyuadi.

Sabtu, 11 Oktober 2008

Akibat Berbakti Kepada Orangtua


Sebagaimana kita maklumi bahwa setiap manusia mengharapkan dan mengidamkan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat, memperoleh kemudahan dan keluasan pintu rizki, dan keberkahan di dalamnya. Untuk itu, kita harus mengenal rambu-rambu yang dapat mengantarkan kita padanya. Juga akibat-akibat durhaka pada mereka, agar kita terhindar dari hambatan dan penghalang untuk meraih harapan dan cita-cita.
Karena profesionalisme sangat tidak cukup untuk mengantarkan kita pada cita-cita. Bahkan limpahan rizki dan materi pasti juga tidak cukup untuk mengantarkan manusia pada kebahagiaan dan kesuksesan yang sejati di dunia dan akhirat. Bahkan justru sebaliknya, materi yang melempah sering menghantam kehidupan manusia. Sehingga ia terjatuh ke dalam kesengsaan batin, dan penderitaan yang abadi di akhirat. Untuk itu, kita sangatlah butuh pada bantuan dari Allah dan Rasul-Nya serta Ahlul baitnya untuk mengenal secara baik rambu-rambu tersebut.
Allah swt menegaskan dalam firman-Nya:
“Rendahkan dirimu terhadap mereka dengan penuh kasih saying, dan ucapkan: “Duhai Tuhanku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil.” (Al-Isra’: 24).
Rasulullah saw bersabda:
بَرُّوا آبَاءَكُمْ‏ يَبَرَّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ وَ عِفُّوا عَنْ نِسَاءِ النَّاسِ تَعِفَّ نِسَاؤُكُمْ
“Berbaktilah kamu pada orang tuamu, niscaya anak-anakmu akan berbakti padamu. Jagalah kesucian isteri orang lain, niscaya kesucian isterimu akan terjaga.” (Al-Wasail 20: 356)
Berbakti tidak cukup hanya saat mereka hidup
Rasulullah saw pernah ditanyai: “Siapakah yang paling besar haknya terhadap seseorang?” Beliau menjawab: “Kedua orang tuanya.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya ada orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya ketika mereka hidup, jika ia tidak memohonkan ampunan untuk mereka setelah meninggal, maka ia dicatat sebagai anak yang durhaka kepada keduanya. Dan sungguh ada orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya ketika mereka hidup, tapi sesudah mereka meninggal ia memperbanyak istighfar untuk keduanya, maka ia dicatat sebagai anak yang berbakti.” (Mustadrak Al-Wasâil 2: 112)
Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: “Sungguh ada seorang hamba yang berbakti kepada kedua orang tuanya ketika mereka hidup; tetapi setelah mereka meninggal, ia tidak menunaikan hutangnya, tidak memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah mencatat ia sebagai anak yang durhaka. Sungguh ada seorang hamba yang durhaka kepada kedua orang tuanya; tetapi setelah mereka meninggal ia menunaikan hutangnya dan memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah mencatat ia sebagai anak yang berbakti kepada mereka.”
Tingkat kewajiban berbakti pada orang tua
Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: “Berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban yang paling besar.” (Mustadrak Al-Wasâil 15: 178)
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Ada tiga hal yang wajib dilaksanakan: Menunaikan amanat kepada orang yang baik atau yang zalim, memenuhi janji kepada orang yang baik atau yang zalim, dan berbakti kepada kedua orang tua yang baik atau yang zalim.” (Mustadrak Al-Wasâil 15: 179)
Akibat-Akibat Berbakti kepada Orang Tua
Sebagaimana durhaka pada mereka berdampak ke dalam kehidupan, juga berbakti kepada mereka memiliki dampak dan akibat positif ke dalam kehidupan kita. Akibat-akibat itu antara lain:
Diridhai oleh Allah Azza wa Jalla
Dalam hadis Qudsi Allah swt berfirman: “Sesungguhnya yang pertama kali dicatat oleh Allah di Lawhil mahfuzh adalah kalimat: ‘Aku adalah Allah, tiada Tuhan kecuali Aku, barangsiapa yang diridhai oleh kedua orang tuanya, maka Aku meri¬dhainya; dan barangsiapa yang dimurkai oleh keduanya, maka Aku murka kepadanya.” (Jâmi’us Sa’adât, penghimpun kebahagiaan, 2: 263).
Disayangi oleh Allah swt
Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib (sa): “…Wahai Ali, Allah menyayangi kedua orang tua yang melahirkan anak karena keberbaktiannya kepada mereka. Wahai Ali, barangsiapa yang membuat sedih kedua orang tuanya, maka ia telah durhaka kepada mereka.” (Al-Faqîh 4: 371)
Ya Allah
Indahkan kepada mereka ucapanku
Haluskan kepada mereka tabiatku
Lembutkan kepada mereka hatiku
Jadikan aku orang yang sangat mencintai mereka
Ya Allah
Jangan biarkan daku lupa untuk menyebut nama mereka sesudah shalatku
pada saat-saat malamku, pada saat-saat siangku
Ya Allah
Jika ampunan-Mu lebih dahulu datang kepada mereka,
izinkan mereka untuk memberi pertolongan kepadaku
Jika ampunan-Mu lebih dahulu sampai kepadaku,
izinkan aku untuk memberi pertolongan kepada mereka
Sehingga dengan kasih sayang-Mu kami berkumpul di rumah-Mu yang mulia
di tempat ampunan dan kasih-Mu
Sungguh Engkau Pemilik karunia yang besar dan anugerah yang abadi
Engkaulah Yang maha Pengasih dari semua yang mengasihi
Kebahagiaan dan Sakinah dalam rumah tangga
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang percaya kepadaku tentang berbakti kepada kedua orang tua dan menjalin silaturrahmi, maka aku akan menjaminnya dalam hal penambahan harta, penambahan umur, dan sakinah dalam rumah tangganya.” (Mustadrak Al-Wasâil 15: 176)
Diridhai oleh Allah swt
Imam Ja’far Ash-Shaqiq (sa) berkata: “Takutlah kamu kepada Allah, dan janganlah durhaka kepada kedua orang tuamu, karena ridha mereka adalah ridha Allah dan murka mereka adalah murka Allah.” (Al-Kafi 2: 349)
Menambah umur dan Rizki
Imam Ja’far (sa) berkata: “Jika kamu ingin ditambah umurmu oleh Allah, maka bahagiakan kedua orang tuamu. Berbakti kepada mereka dapat menambah rizki.” (Al-Wasâil 18: 371).
Memudahkan sakaratul maut
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang ingin memperoleh kemudahan saat sakaratul maut, maka hendaknya ia menjalin silarurrahim dengan karabatnya, dan berbakti kepada kedua orang tuanya.” (Bihârul Anwâr 74: 66)
Memudahkan perhitungan amal pada hari kiamat
Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: “Berbakti kepada orang tua dan menjalin silaturrahmi akan dimudahkan hisab amalnya…” (Mustadrak Al-Wasâil 15: 177)
Wassalam,

Selasa, 23 September 2008

Doa Jawsyan Kabir dalam Hadis Nabi saw dan Ahlul Baitnya (SA)

Dalam kitab Al-Baladul Amîn dan Al-Mishbâh disebutkan:
Imam Ali Zainal Abidin (sa) meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi saw, ia berkata: “Ketika Nabi saw berada dalam salah satu peperangan, datanglah malaikat Jibril (as) kepadanya dan berkata: Wahai Muhammad, Tuhanmu menyampaikan salam untukmu dan berfirman: ‘Pakailah Jawsyan ini dan bacalah, doa ini akan menjadi pelindung bagimu dan umatmu.” Beliau menyebutkan keutamaan doa ini, antara lain:
1. Jika teks doa ini dituliskan pada kain kafan, sang mayit akan diselamatan dari api neraka.
2. Jika dibaca dengan ikhlas di bulan Ramadhan, ia akan dikaruniai malam Al-Qadar, diciptakan baginya 70 ribu malaikat semuanya bertasbih kepada Allah swt lalu pahala dihadiahkan kepada yang membacanya.
3. Jika dibaca di bulan Ramadhan (3 kali), Allah swt mengharamkan jasadnya dari api neraka, mewajibkan baginya surga, dan mewakilkan kepada dua malaikat untuk menjaganya dari kemaksiatan dan dalam sepanjang hidupnya ia berada dalam pengamanan Allah swt.

Di akhir riwayat tersebut Al-Husein (sa) berkata: “Ayahku Ali bin Abi Thalib (sa) berwasiat kepadaku agar aku menjaga dan memuliakan doa ini, menuliskan pada kain kafannya, mengajarkan kepada keluargaku dan menganjurkan mereka agar membacanya. Doa ini terdiri dari seribu Asma Allah yang di dalamnya terdapat Ismul A’zham.”

Allamah Al-Majlisi, penulis kitab Bihârul Anwâr (kitab hadis dan riwayat) yang terdiri dari 120 jilid. Dalam kitabnya Zâdul Ma’âd ia mengatakan: Doa Jawsyan Kabir sangat dianjurkan untuk dibaca pada awal bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam Al-Qadar. Doa ini terdiri dari 100 pasal, setiap pasal terdapat sepuluh Asma Allah, dan setiap akhir pasal membaca:

سُبْحَانَكَ يَا لاَ اِلَهَ إلاَّ اَنْتَ اَلْغَوْثَ اَلْغَوْثَ خَلِّصْنَا مِنَ النَّارِ يَا رَبِّ.
Subhânaka yâ lâ ilâha illâ Anta alghawts-alghawts khallishnâ minan nâri yâ râbb.
Maha Suci Engkau, tiada Tuhan kecuali Engkau, lindungi kami, lindungi kami, lindungi kami, selamatkan kami dari api neraka ya Rabb.

Doa ini telah disyarahi oleh seorang ulama besar dan filosuf isyraqi yaitu Mulla Hadi Sabzawari. Dalam kitab syarahnya disebutkan tentang keajaiban doa ini. Semoga kita yang membacanya menemukan keajaiban doa ini sebagaimana yang disebutkan dalam kitab tersebut dan seperti orang-orang mukmin yang telah merasakannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb,
R. Benny Wahyuadi.

Senin, 22 September 2008

Amalan dan Doa khusus Malam Ke 23 Ramadhan

Pertama: Membaca doa dan mengamalkan amalan umum malam Al-Qadar.
Kedua: Membaca Surat Al-Ankabut.
Ketiga: Membaca Surat Ad-Dukhkhan.
Keempat: Membaca Surat Al-Qadar (1000 kali).

Kelima: Mengulang-ulang membaca doa berikut ini, dan dianjurkan juga untuk dibaca setiap bakdah shalat-shalat fardhu:

Allâhumma kun liwaliyyika al-hujjatibnil Hasan shalawâtuka `alayhi wa`alâ abâihi fî hâdzihil sâ'ah wa fî kulli sâ'ah waliyyan wa hâfizhâ, wa qâ'idan wa nâshirâ, wa dalîlan wa `aynâ, hattâ tuskinahu ardhaka thaw'â wa tumatti'ahu fîhâ thawîlâ.

Ya Allah, jadilah Engkau bagi kekasih-Mu Al-Hujjah ibnal Hasan (semoga shalawat-Mu tercurahkan kepadanya dan kepada bapak-bapaknya) saat ini dan setiap saat penjaga dan pemelihara, pelindung dan penolong, penunjuk dan penuntun. Sehingga Kau serahkan kepadanya bumi-Mu dengan suka rela, dan Kau bahagiakan ia di dalamnya dalam waktu yang lama.


Wassalam,
R. Benny Wahyuadi.

Amalan dan doa ini selengkapnya, klik disini:
http://islampraktis.wordpress.com

Minggu, 21 September 2008

Ahlulbayt bukanlah ditentukan oleh Syi'ah

Ahlulbayt bukanlah ditentukan oleh Syi'ah atau pihak manapun di dunia ini. Ahlulbayt ditentukan oleh Allah dan Rasulnya sendiri. Lalu siapakah Ahlulbait yang disebutkan dalam Al-Ahzab 33 menurut Nabi dan sebagian sahabatnya itu? Marilah kita perhatikan beberapa riwayat berikut ini :

Ummu l`mu`minin Aisyah mengatakan : "Pada suatu pagi Rasulullah saw keluar dari rumah) dengan membawa kain berbulu yang berwarna hitam. Kemudian datang (kepada beliau) Hasan putra Ali, lalu beliau memasukkannya (ke bawah kain); lalu datang Husayn lantas dia masuk bersamanya; kemudian datang Fathimah,lantas beliau memasukannya; kemudian datang Ali, lalu beliau memasukannya. Kemudian beliau membaca ayat : ‘Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan dari kalian wahai Ahlulbait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya’". (Lihat Shahih Muslim bab fadha`il Ahli bayti l`Nabiyy; Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 3/147; Sunan Al-Bayhaqi 2/149 dan Tafsir Ibnu Jarir Al-Thabari 22/5).

Jadi jelaslah bahwa yang dimaksudkan Ahlulbayt oleh Allah dan Rasulnya adalah Rasulullah sendiri, Imam 'Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az Zahara, Hassan dan Hussein ( 5 orang). Tapi Abu Bayu yang masih penasaran di medan Internet ini tidak dapat menerimanya. Disini nampak sekali beliau mengikuti orang - orang yang fanatik buta dalam beragama. Sikap seperti inilah yang membuat seseorang takdapat menemukan kebenaran.
Untuk menambah wawasan silakan ikuti alinia - alinia berikut ini:

Amer putra Abu Salamah – anak tiri Rasulullah – mengatakan : "Ketika ayat ini (innama yuridu l`llahu liyudzhiba ‘ankumu l`rijsa ahla l`bayt wa yuthahhirakum tathhira) diturunkan di rumah Ummu Salamah, beliau memanggil Fathimah, Hasan dan Husayn sedangkan Ali as. berada di belakang beliau. Kemudian beliu mengerudungi mereka dengan kain seraya beliau berdoa : ‘Ya Allah mereka ini ahlulbaitku maka hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya’. Ummu Salamah berkata: ‘Dan aku bersama mereka wahai Nabi Allah?’ Beliau bersabda : ‘Engkau tetap di tempatmu, engkau dalam kebaikan’". (Al-Turmudzi 2:209, 308 ; Musykilu l`Atsar 1:335; Usudu l`Ghabah 2:12; Tafsir Ibni Jarir Al-Thabari 22: 6-7).

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi saw. telah mengerudungkan sehelai kain ke atas Hasan, Husayn, Ali, Fatimah lalu beliau berkata, "Ya Allah, mereka ini Ahlulbaitku dan orang-orang terdekatku, hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya,". Kemudian Ummu Salamah berkata: "Aku ini bersama mereka wahai Rasulullah ?". Beliau bersabda, "Sesungguhnya engkau berada di atas kebaikan". (HR Al-Turmudzi 2:319).
Anas bin Malik telah berkata : "Rasulullah saw pernah melewati pintu rumah Fatimah ‘alayha l`salam selama enam bulan, apabila beliau hendak keluar untuk shalat subuh, beliau berkata, ‘Salat wahai Ahlulbait! Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan darimu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya’". (HR Al-Turmudzi 2 : 29).

Itulah beberapa kesaksian dari beberapa kitab rujukan bahwa Ahlulbait dalam surah Al-Ahzab itu bukan istri-istri Nabi saw melainkan Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn sekalipun ayat tersebut digabungkan penulisannya dengan ayat yang menceriterakan istri-istri Nabi saw sebab di dalam Al-Quran mushhaf ‘utsmani ini terkadang dalam surah makkiyyah terselip di dalamnya beberapa ayat madaniyyah atau sebaliknya atau satu ayat mengandung dua cerita seperti pada ayat diatas dan tentu para ulama telah maklum adanya.

Surah Al-Syura:23
Ketika orang-orang musyrik berkumpul di satu tempat pertemuan mereka, tiba-tiba berkatalah sebagian dari mereka kepada yang lainnya : Apakan kalian melihat Muhammad meminta upah atas apa yang dia berikan ? Kemudian turunlah ayat : "Katakanlah aku tidak meminta upah dari kalian selain kecintaan (mawaddah) kepada al-qurba". (Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasysyaf).

Kemudian beliau berkata: Telah diriwayatkan ketika ayat tersebut turun bahawa ada orang yang bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah kerabatmu yang telah diwajibkan atas kami mencintai mereka? Beliau menjawab: "Mereka itu adalah Ali, Fathimah dan kedua putranya (Hasan dan Husayn)".

Ayat tersebut di atas telah mewajibkan seluruh manusia untuk mencintai (mengikuti) keluarga Nabi atau Ahlulbait dan mencintai mereka merupakan dasar di dalam ajaran Islam. Rasulullah saw bersabda (yang artinya): "Segala sesuatu ada asasnya dan asas Islam adalah mencintai Ahlulbaitku". (Hadits yang mulia). Dan jika kita membenci mereka maka amal baik kita akan menjadi sia-sia dan kita masuk neraka. Sabdanya : "Maka seandainya seseorang berdiri (beribadah) lalu dia salat dan saum kemudian dia berjumpa dengan Allah (mati) sedangkan dia benci kepada Ahlulbait Muhammad, niscaya dia masuk neraka." Al-Hakim memberikan komentar terhadap sabda Nabi ini sebagai berikut : "Ini hadits yang baik lagi sah atas syarat Muslim". ( Kitab Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 3/148).

Surah Ali ‘Imran:61
Ayat ini disebut sebagai ayat mubahalah karena di dalamnya ada ajakan untuk ber-mubahalah dengan para pendeta nasrani. Adapun terjemahannya: "Siapa yang menbantahmu tentang dia (Al-Masih) setelah datang kepadamu ilmu, maka katakanlah (kepada mereka): Marilah, kami memanggil anak-anak lelaki kami dan (kamu memanggil) anak-anak lelaki kamu, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu dan diri-diri kami serta diri-diri kamu, kita bermubahalah dan kita tetapkan laknat Allah atas mereka yang berdusta".

Saksi sejarah yang hidup dan kekal yang diriwayatkan ahli-ahli tarikh dan tafsir telah memberikan kejelasan kepada khalayak akan kesucian keluarga Nabi saw yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Ayat tersebut menunjukan betapa agungnya kadar dan kedudukan mereka di sisi Allah ‘azza wa jalla.
Diantara kasus yang disampaikan para muarrikh, mufassir dan muhaddits ialah peristiwa mubahalah, yaitu ketika datang utusan dari masyarakat keristen Najran untuk membantah Rasulullah—shalla l`llahu ‘alayhi wa alihi wa sallam—kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat di atas agar beliau memanggil Ali, Fathimah. Hasan dan Husain. Beliau keluar membawa mereka ke lembah yang telah ditentukan dan para pemimpin keristen pun membawa anak-anak dan perempuan-perempuan mereka.

Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasysyaf berkata : "Sersungguhnya ketika mereka diseru untuk bermubahalah mereka mengataakan : ‘Nanti akan kami pertimbangkan terlebih dahulu’. Tatkala mereka berpaling (dari mubahalah) berkatalah mereka kepada Al-Aqib—yang menjadi juru bicara mereka : ‘Wahai hamba Al-Masih, bagaimanakah menurutmu?’ Dia berkata: Demi Allah, kalian juga tentu mengetahui wahai umat nasrani bahwa Muhammad adalah seorang Nabi dan Rasul. Dia datang kepadamu membawa penjelasan mengenai Isa (Yesus). Demi Allah tidak ada satu kaum pun yang mengadakan mubahalah dengan seorang Nabi lalu mereka hidup. Dan jika kalian melakukan mubahalah dengannya niscaya kalian semua pasti binasa, dan apabila kalian ingin tetap berpegang kepada ajaran kalian maka tinggalkan orang tersebut dan pulanglah ke kampung halaman kalian".

Keesokan harinya Nabi saw datang dengan menggendong Husayn dan menuntun Hasan dan Fathimah berjalah di belakang beliau sedang Ali berjalan di belakang Fathimah. Nabi bersabda : "Bila aku menyeru kalian maka berimanlah !". Melihat Nabi dan Ahlulbaitnya, berkatalah uskup Najran : "Wahai umat keristen, sungguh aku melihat wajah-wajah yang sendainya mereka berdoa kepada Allah agar Dia (Allah) menghilangkan sebuah gunung dari tempatnya pasti doa mereka akan dikabulkan, oleh karena itu tinggalkan mubahalah sebab kalian akan celaka yang nantinya tidak akan tersisa seorang keristen pun sampai hari kiamat".

Akhirnya mereka berkata : "Wahai Abul Qasim, kami telah mengambil keputusan bahwa kami tidak jadi bermubahalah, namun kami ingin tetap memeluk agama kami." Rasul bersabda : "Jika kalian enggan mubahalah maka terimalah Islam bagi kalian dan akan berlaku hukum atas kalian sebagai mana berlaku atas mereka (muslimin yang lain)."

Kemudian Al-Zamakhsyari--rahimahu l`llah--menjelaskan kedudukan Ahlulbait ketika menafsirkan ayat mubahalah, setelah dia menjelaskan keutamaan mereka melalui riwayat dari Aisyah dengan mengatakan : "Diantara mereka ada yang diungkapkan dengan anfusana (diri-diri kami); ini adalah untuk mengingatkan akan tingginya kedudukan mereka dan ayat ini adalah dalil yang sangat kuat dari-Nya atas keutamaan ashhabu l`kisa` (Ahlulbait)—‘alayhimu l`salam".

Pertunjukan mubahalah yang tidak terjadi itu telah menampilkan dua kekuatan yaitu iman versus syirik, dan manusia-manusia mukmin yang tampil waktu itu (Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn) adalah para tokoh petunjuk, umat terkemuka dan orang-orang suci. Seruan mereka tidak boleh dibantah dan kalimat mereka tidak boleh didustakan. Dari sini kita dapat memahami bahwa apa-apa yang datang dari mereka baik pemikiran, syari’ah, tafsiran, petunjuk maupun pengarahan adalah berlaku; mereka adalah orang-orang yang benar dalam ucapannya, perjalanan hidupnya dan tingkah lakunya.
Al-Quran telah menganggap setiap yang berlawanan dengan mereka adalah musuh-musuh, dan menjadikan musu-musuh mereka sebagai orang-orang yang berdusta serta berpaling dari kebenaran yang sepantasnya mendapat laknat dan azab. "…maka kami jadikan laknat Allah atas mereka yang berdusta."

Dan juga dari segi bahasa yang sangat dalam pada ayat tersebut yang harus kita perhatikan, yakni ketika mereka disandarkan kepada Nabi. Hasan dan Husayn disebut sebagai "anak-aknak kami", Fathimah sebagai perempuan-perempuan kami" dan Ali sebagai "diri-diri kami". Di sini Imam Ali disandarkan kepada diri Nabi yang suci.
Sesungguhnya Rasulullah—shalla l`llahu ‘alayhi wa alihi wa sallam--hanya mengeluarkan empat orang ke arena mubahalah, ini berarti memberikan penjelasan kepada kita bahwa Fathimah Al-Zahra`--‘alayha l`salam--perempuan pilihan yang harus diteladani umat manusia; Imam Hasan dan Imam Husayn—‘alayhima l`salam--adalah anak-anak umat yang wajib kita taati sedangkan Iamam Ali--‘alayhi l`salam--adalah dianggap diri Nabi sendiri.

Ahlulbait dalam Sunnah Nabi saw
Orang yang membaca sunnah-sunnah Nabi saw, perjalanan hidupnya dan memperhatikan hubungannya dengan Ahlulbaitnya yang telah ditegaskan di dalam Al-Quran yakni Ali, Fathimah adan kedua putranya, pasti dia mengetahui bahwa Ahlulbait Nabi mempunyai tanggung jawab risalah dengan umat ini. Rasulullah saw telah menggariskannya untuk umat agar mereka menerimanya sebagai perinyah dari Allah ‘azza wa jalla.

Langkah pertama yang ditempuh Nabi saw ialah melaksanakan perintah Allah, yaitu menikahkan Fathimah kepada Ali bin Abi Thalib. Beliau menanam pohon yang diberkati agar cabang-cabangnya menjangkau segala ufuk umat ini di sepanjang sejaarahnya.

Tentang pernikahan itu Nabi bersabda kepada Imam Ali—salam atasnya : "Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku agar aku menikahkanmu kepada Fathimah dengan mahar empat mitsqal perak jika engkau rela dengan yang demikian." Dia berkata: "Aku rela dengan yang demikian."

Dari pernikahan yang diberkati itu lahir Imam Hasan dan Imam Husayn. Dan dari sulbi Imam Husayn lahir sembilan Ahlulbait Nabi yang suci. Dzurriyyah (keturunan) Nabi melalui sulbi Imam Ali as sebagaimana yang beliau katakan : "Sesungguhnya Allah telah menjadikan keturunan setiap nabi dari sulbinya, tetapi dzurriyyahku dari sulbi orang ini yakni Ali."

Cerita Ahlulbait Nabi saw dalam sunnahnya lebih banyak lagi, baik tentang Fathimah sebagai sayyidatu nisa` l`’alamin, pengangkatan Ali sebagai khalifah Nabi yang pertama, Ahllulbait sebagai padanan Al-Quran, kedudukan mereka, dua belas imam maupun yang lainnya. Di sini kita ceritakan dua hal saja, yaitu yang paling mengikat: Ahlulbait sebagai bahtera keselamatan dan Ahlulbait padanan Al-Quran.

Bahtera Keselamatan
Abu Nuaym telah meriwayatkan hadits yang sanadnya dari Sa’id bin Jubayr dari Ibnu Abbas dia berkata bahwa Rasulullah saw telah mengatakan : "Perumpamaan Ahlulbaitku pada kamu adalah semisal bahtera Nuh—‘alayhi l`salam—barangsiapa yang mengikutinya pasti selamat dan yang berpaling darinya pasti dia tenggelam." Hadits Nabi ini diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 2/343. Dia berkata : Hadits ini sah berdasarkan persyaratan Muslim. Pesan dari sunnah Nabi ini ialah bahwa kita hanya akan selamat jika mengikuti Ahlulbait Nabi yang disucikan.

Padanan Al-Quran
Ahlulbait telah dijamin kesuciannya, mereka yang menjaga tafsir Al-Quran dan sunnah-sunnah Rasul, mereka yang menjaga kesucian ajaran Islam dari penambahan dan pengurangan, dari bid’ah, khurafat dan takhayyul.
Supaya umat tidak tersesat, maka Rasulullah saw berpesan kepada manusia agar tida tersesat jalan, sabdanya : "Wahai umat manusia! Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kamu yang apabila kamu berpegang dengannya kamu tidak akan tersesat; kitab Allah dan ‘itrahku Ahlulbaitku." (HSR Al-Turmudzi 2/308).

Ahlulbait Dikenal Umat Terdahulu
Ahlulbait telah dikenal oleh umat-umat terdahulu, antara lain oleh Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa—salam atas mereka.
Nabi Adam –salam atasnya--telah bermohon kepada Allah dengan hak mereka. Ibn Abbas telah berkata : "Saya telah bertanya kepada Rasulullah saw tentang kalimat-kalimat yang telah diterima Adam dari Rabb-nya hingga Dia menerima taubatnya. Nabi saw bersabda : "Dia telah bermohon (kepada Allah) : Dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn terimalah taubatku, lalu Dia menerima taubatnya". (Al-Durr al-Mantsur ketika menafsirkan firman Allah ‘azza wa jalla : "fatalaqqa ‘Adamu min Rabbihi kalimat," (QS. Al-Baqarah 37), baca juga kitab Kanzu l`‘Ummal 1:234.

Sebuah team ahli peneliti Rusia telah menemukan tumpukan kayu bekas kapal Nabi Nuh as. yang di dalamnya terdapat tulisan doa tawassul dengan Nabi Muhammad saw dan Ahlulbaitnya.

Mohammad, Ali, Hassan, Hossain, Fatema
In july 1951 a team of Russian expert search of mines in the vicinity of Mt. Jude on the border of Soviet Union and Tukey came a cross some buried dilapidated wooden planks, etc.,of unusual disposition. Amog the planks was a wooded plate about 14 inches long and ten iches wide. On the plate was engraved some words in old unknown language. In 1953 the Government of Soviet Union appointed an Investigation Commission seven specialits who concluded that these planks were part of the famous Arc of Noah and the wording engraved on the plate belong to a very old language known as Samani. These wordings were transformed into Russian and also translated into English by Professor N.F. Thomas, expert of old language from Manchester, England. There was a small figure of a palm of a hand and five fingers the wording were Mohammed, Alia, Shabber, Shabbir Fatema. "O my God, my helper I keef my hand with mercy with your holy bodies. They are all beggest and honorable. The world was established for them. Help me by their name, you can reform light."
This plate is savely preserved in the Museum of Archeology and Research, moscow, Soviet Union.

Muhammad, Ali, Hasan, Husayn dan Fathimah
Pada bulan Juli tahun 1951, sebuah team riset Rusia di sekitar gunung Judi di perbatasan Uni Soviet dan Turki secara tidak sengaja, mereka menemukan beberapa kuburan tumpukan kayu-kayu yang telah bobrok yang terssusun secara luar biasa. Di antara tumpukan kayu tersebut ditemukan satu plat kayu yang berukuran sekitar 10 x 14 inci. Pada palat kayu tersebut terukir beberapa kalimat dalam bahasa kuno yang sudah tidak dikenal. Pada tahun 1953 pemerintah Uni Soviet menunjuk sebuah komisi peneliti yang terdiri dari tujuh orang ahli (untuk meneliti penemuan tersebut), mereka menyimpulkan bahwa tumpukan kayu itu adalah bagian bahtera Nabi Nuh—‘alayhi l`salam--yang terkenal itu. Dan kata-kata yang terukir pada plat kayu adalah kata-kata dari bahasa Samani, yaitu suatu bahasa yang sudah sangat tua. Kata-kata tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan Inggris oleh Prof. N.F. Thomas, seorang ahli bahasa-bahasa kuno dari Manchester, Inggris.
Pada plat kayu itu terdapat ukiran telapak tangan dengan lima jari. Pada kelima jari tersebut terdapat tulisan masing-masing: Muhammad, Ali, Hasan (syabar), Husayn (Syubayr), dan Fathimah. (Di bawahnya terdapat doa tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mereka): "Wahai Tuhanku, wahai penolongku, aku berdoa dengan kemurahan-Mu melalui tubuh-tubuh suci yang Engkau ciptakan, mereka terbesar dan termulia, tolonglah aku melalui nama mereka, engkaulah yang mendatangkan cahaya".

Plat kayu itu sekarang terpelihara dengan aman pada Museum Arkeologi dan Riset, Moscow, Uni Soviet. (Sumber : The Bulletin of The Islamic Center "UNDER SIEGE" P.O. BOX 32343 Wahington D.C. N.W. 20007 Vol. 7 No. 10 Rabi al-Awwal 6, 1408/Oktober 30,1987)

Pada zaman Nabi Musa ‘alayhi l`salam, ketika Bani Isra`il diperintahkan Allah untuk mencari lembu betina dan mereka sangat rewel menerima perintah tersebut hingga akhirnya mereka merasa kesulitan dalam pencariannya sebab sapi betina itu sifat-sifatnya harus kuning langsat yang elok dipandang mata, tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, tidak ada belangnya sedikit pun dan belum pernah digunakan untuk membajak tanah. Kemudian sapi tersebut mereka temukan namun harganya sangat mahal karena memang sapi betina tersebut tidak akan dijual. Akhirnya mereka kumpulkan harta untuk membayarnya. Setelah itu Bani Isra`il jatuh miskin dikarenakan hartanya habis dipakai membayar lembu betina, lantas mereka protes kepada Nabi Musa as. Kemudian Nabi Musa—‘alayhi l`salam—berkata kepada mereka : "Jahil kamu, alangkah butanya hati-hati kamu tidakkah kamu dengar doa pemuda yang punya lembu betina itu dan kekayaan yang diwarirkan Allah ta’ala kepadanya ? Tidakkah kamu dengar doa orang yang dibunuh yang digergaji yang dikaruniai usia panjang dan kebahagiaan serta kenikmatan dengan inderanya ? Mengapa kamu tidak berdoa semisal doa tawassul mereka agar Dia menutup kemiskinan kamu ?". Kemudian mereka mengatakan (dalam doanya) : "Ya Allah, kepada-Mu kami berlindung dan kepada karunia-Mu kami bersandar, maka hilangkanlah kemiskinan kami dan tutuplah kebutuhan kami dengan keagungan Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn dan orang-orang yang baik dari keluarga mereka." Kemudian tidak lama setelah mereka berdoa, Allah ta’ala mengembalikan kekayaan mereka. (Qashashu l`Anbiya` Hal 326).

Adapun arti dari doa tawassul tersebut adalah sebagai berikut : "Ya Allah, sesungguhnya kami menghadap kepada-Mu dan berlindung kepada-Mu dari kesulitan dan kemiskinan dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn". (Qashashu l`Anbiya`).

Sabda Nabi tentang Mereka
"Fahtimah belahan nyawaku, maka barangsiapa yang membuatnya marah berarti dia telah membuatku marah." (Shahihu l`Bukhari 2/308).
"Dia (Fathimah) adalah belahan nyawaku, maka barangsiapa yang mencemaskannya berarti dia telah mencemaskan diriku, dan barangsiapa yang manyakitinya berarti dia telah menyakiti diriku". (Shahihu l`Bukhari 3/265).

"Wahai Ali engkau adalah penghulu di dunia dan penghulu di akhirat. Yang mencintaimu berarti mencintaiku, dan yang mencintaiku berarti mencintai Allah. Musuhmu berarti musuhku, dan musuhku adalah musuh Allah. Dan celakalah orang yang membencimu setelahku". (Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 3/127).

"Barangsiapa mencintai Hasan dan Husayn berarti dia telah mencintaiku, dan barangsiapa yang membenci mereka maka sesungguhnya dia telah membenciku". (HR. Ibnu Majah, Musnad Al-Imam Ahmad Ibn Hanbal 2/288).

Penutup
Ahlulbait dalam surah Al-Ahzab 33 tidak berkenaan dengan istri-istri Rasulullah saw baik dilihat dari segi bahasa, asbabu l`nuzul, bayan dari Nabi saw, riwayat dari sebagian istri Nabi maupun secara faktual, karena disucikan sesuci-sucinya itu berarti tidak melakukan dosa-dosa dan kesalahan, sedangkan sebagian dari istri Nabi keadaannya tidaklah demikian.
Ahlulbait dalam Al-Ahzab 33 adalah Ali, Fathimah, Hasan, dan Husayn. Pada waktu ayat tersebut turun, mereka itulah Ahlulbait Nabi saw yang dihilangkan keraguannya dan disucikan (muthahharun). Ahlulbait Nabi yang disucikan masih ada sembilan orang lagi dari keturunan Imam Husayn as, mereka itu adalah : ‘Ali Zaynu l`’Abidin, Muhammad Al-Baqir. Ja’far Al-Shadiq, Musa Al-Kadzim, ‘Ali Al-Ridha, Muhammad Al-Jawad, ‘Ali Al-Hadi, Hasan Al-‘Askari dan Muhammad Al-Mahdi (Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu kehadirannya) –salam atas mereka semuanya. Salman Al-Farisi—semoga Allah merahmatinya—telah mengatakan : "Saya datang kepada Nabi saw dan Husayn sedang berada pada pangkuan beliau, beliau mencium kedua matanya dan mengecup lidahnya seraya beliau mengatakan : ‘Engkau sayyid putra sayyid, engkau imam putra imam ayah para imam, engkau hujjah putra hujjah ayah para hujjah, sembilan orang lagi dari shulbimu dan yang kesembilannya adalah penegaknya (qa`imnya)’".

Jadi Ahlulbait Nabi saw itu tiga belas (13) orang (Fathimah Al-Zahra` dan para khalifah Rasulullah yang dua belas (12). Umat Islam tidak boleh membenci mereka, sebab membenci mereka berarti membenci Nabi sedangkan membenci Nabi berarti membenci Allah ‘azza wa jalla, dan akhirnya ibadah kita kepada-Nya menjadi sia-sia.

Semoga Allah ta’ala memberi hidayah dan taufiq kepada kita dan kaum muslim yang lain hingga kita dapat menerima apa yang telah dipesankan Rasulullah : "Wahai manusia telah kutinggalkan padamu yang jika kamu berpegang dengannya niscaya kamu tidak akan tersesat; kitab Allah dan ‘itrahku Ahlulbaitku".

Saya kira dibulan yang lebih mulia dari bulan-bulan lainnya ini, kita dapat menghindari diri dari bertengkar. Kalau memang mau berlapang dada dan ikhlas berdiskusi untuk mencari kebenaran bukan untuk bermusuhan apalagi untuk melampiaskan sentimentil yang telah lama terpendam, maka silakan saja tidak ada salahnya.

Billahi fisabililhaq,
R. Benny Wahyuadi.